Saham Emiten Berkinerja Apik Bisa Diincar di Akhir Tahun

Tapi analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan untuk berburu saham potensial tersebut, investor sebaiknya menunggu sampai akhir November. Pasalnya, saat ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami koreksi.
IHSG, kata dia, diprediksi baru menguat pada Desember. "Memang pada November kalau saya lihat dalam lima tahun terakhir asing selalu jual bersih (net sell) jadi ada kemungkinan turun dulu," katanya kepada CNNIndonesia.com.
Mengutip RTI Infokom, kinerja IHSG turun 0,47 persen dalam pekan pertama November. Sejak awal tahun (year to date) indeks terpantau melemah 0,27 persen. Pelemahan IHSG sejalan dengan larinya dana investor asing dari pasar. Pekan lalu, asing terpantau net sell sebesar Rp2,57 triliun. Namun, sejak awal tahun asing masih mencatatkan beli bersih (net buy) Rp40,8 triliun.
Sebagai pertimbangan beli saham, pelaku pasar bisa melihat kinerja emiten pada kuartal III 2019. Mayoritas perusahaan tercatat telah melaporkan kinerjanya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berkaca dari kinerja sembilan bulan pertama 2019, Sukarno menyarankan beli saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST), PT Bumi Serpong Damai Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN).
Ia menuturkan sektor konstruksi mendapatkan sentimen positif dari berakhirnya pesta politik dan kepastian presiden RI. Terlebih, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengumumkan bahwa ia akan kembali melanjutkan program pembangunan infrastruktur pada periode kedua pemerintahannya.
[Gambas:Video CNN]
"Nah, sekarang sudah ada kejelasan dan harapan ke depannya proyek-proyek khususnya BUMN bisa dilanjutkan lagi," ujarnya.
Pada kuartal III 2019, Adhi Karya berhasil mengantongi kenaikan laba 4,68 persen dari Rp335,53 miliar menjadi Rp351,22 miliar. Sejak awal tahun, saham Adhi Karya terdiskon cukup dalam yakni 23,34 persen ke level Rp1.215 per saham pada penutupan Jumat (8/11). Dengan demikian, saham kontraktor pelat merah itu terbilang cukup murah.
Sementara itu, Wijaya Karya juga berhasil mengantongi pertumbuhan laba persen 48,31 persen dari Rp860,45 miliar menjadi Rp1,57 triliun di kuartal III 2019. Dari kinerja saham, Wijaya Karya mencatat kenaikan saham sebesar 17,52 persen sejak awal tahun ke posisi Rp1.945 per saham.
Selain konstruksi, lanjutnya, sektor perbankan dan properti mendapatkan angin segar dari penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Untuk diketahui, bank sentral telah mengerek turun BI 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) 100 basis poin ke posisi 5,25 persen sejak awal tahun.
Penurunan suku bunga tersebut akan diikuti dengan penurunan suku bunga deposito, sehingga mengurangi biaya dana (cost of fund) perbankan. Setelah bunga deposito turun, bank juga akan menurunkan tingkat suku bunga kredit. Akan tetapi, transmisi penurunan bunga kredit cenderung lebih lama ketimbang bunga deposito.Secara khusus, Presiden Jokowi telah meminta perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit. Kondisi ini diyakini akan memberikan dorongan kepada sektor properti yang selama ini cenderung lesu.
"Sentimen turunnya suku bunga juga bisa positif bagi emiten-emiten properti lainnya," katanya.
Bekasi Fajar Industrial Estate berhasil meraup kenaikan laba 37,66 persen dari Rp153,44 miliar menjadi Rp210,85 miliar. Lalu, Bumi Serpong Damai tercatat membukukan marketing sales senilai Rp5,3 triliun pada kuartal III-2019. Meski turun 1,8 persen secara tahun, namun jumlah itu setara 85 persen dari target marketing sales 2019 sebesar Rp6,2 triliun.
Saham Bekasi Fajar Industrial Estate terpantau naik 11,54 persen sejak awal tahun di posisi Rp232 per saham. Tak jauh berbeda, saham Bumi Serpong Damai terbang dua digit 11,95 persen ke posisi Rp1.405 sejak awal tahun.Dari sektor perbankan, laba BNI tumbuh 4,7 persen dari Rp11,4 triliun menjadi Rp12 triliun. Sementara itu, Panin Bank mengantongi pertumbuhan laba 16,8 persen dari Rp2,1 triliun menjadi Rp2,52 triliun.
Senada, Pendiri LBP Institute Lucky Bayu menyatakan sektor konstruksi memiliki peluang perkembangan bisnis lebih apik ketimbang sektor lainnya. Kondisi ini tidak lepas dari target pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur.
Selain Adhi Karya dan Wijaya Karya, ia juga menjagokan saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) dan saham PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP). Lucky menuturkan kondisi keuangan perusahaan konstruksi BUMN pelat merah tersebut masih positif.
Meski ia tak menampik tingkat likuiditas perseroan terus meningkat. Pertumbuhan likuiditas itu, sambung dia, masih bisa diimbangi dengan peningkatan laba operasional sehingga mencerminkan tingkat kapabilitas perseroan."Dan selama utang produktif maka itu tidak akan menjadi masalah," ujarnya.
Untuk diketahui, proyek pembangunan yang dikerjakan oleh perusahaan konstruksi BUMN mayoritas menggunakan skema turnkey atau Contractors Pre Financing (CPF). Lewat skema ini, BUMN karya bertugas mendesain, membangun hingga menyelesaikan proyek infrastruktur.
Dalam skema ini, perseroan tidak selalu menerima pendapatan penuh di depan, bahkan kerap kali pemerintah baru membayar penuh ketika proyek selesai.
Meskipun pembayaran di akhir, Lucky meyakini tidak akan terjadi gagal bayar. Justru menurutnya perusahaan konstruksi BUMN yang paling banyak mengerjakan proyek adalah perusahaan yang bakal paling banyak mendulang untung nantinya.
"Kalau risiko menunda bisa jadi. Tapi gagal bayar rasanya tidak karena pemerintah juga menganggarkan biaya pembangunan dalam APBN," ucapnya.Ia memprediksi saham perusahaan kontraktor itu mengalami tren kenaikan ke depannya. Saham Adhi Karya diperkirakan naik ke level Rp1.252 per saham, Wijaya Karya menjadi Rp2.003, Waskita Karya ke posisi Rp1.529, dan PP menjadi Rp1.627 per saham.
"Jika terjadi pelemahan itu masih dalam batas wajar, saham konstruksi lebih mampu bertahan dibandingkan sektor lain," ucapnya.
(agt)Halaman Selanjutnya >>>>
Bagikan Berita Ini