Search

Anak Mau Sekolah, Orang Tua yang 'Dilema'

Anak Mau Sekolah, Orang Tua yang 'Dilema'

Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun ajaran baru 2020/2021 memang baru akan dimulai enam bulan ke depan. Namun, sejumlah sekolah kini sudah membuka pendaftaran. Semakin cepat orang tua mendaftar maka kesempatan anak untuk mendapat 'jatah' kursi makin terbuka lebar.

Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk tahun ajaran 2019/2020 jumlah Sekolah Dasar (SD) yang ada di DKI Jakarta mencapai 2.377 sekolah yang terbagi atas 1.464 SD Negeri dan 913 SD Swasta.

Bila SD Negeri kini bergantung pada zonasi di kartu keluarga, SD Swasta justru membuka peluang bagi siapa saja untuk mendaftar tanpa dibatasi lokasi. Hal ini itu berarti, orang tua punya banyak pilihan sekolah untuk anak, khususnya untuk tingkat TK dan SD.


Walau banyak pilihan, ironisnya hal tersebut tak membuat orang tua lebih mudah memilih. Ada sejumlah hal yang bisa membuat orang tua mengalami dilema. Selain biaya ada faktor lain yang jadi pertimbangan, mulai dari kurikulum, fasilitas, metode pembelajaran, termasuk jarak dan transportasi.

Menurut polling yang dilakukan CNNIndonesia.com kepada 403 pembaca pada Selasa (17/12), ada sejumlah pertimbangan yang dilakukan oleh orang tua saat memilih sekolah untuk anak.

Hasil polling menunjukkan, 35 persen pembaca memilih kurikulum sebagai pertimbangan utama. Sekolah berbasis agama juga menjadi pertimbangan utama 23 persen pembaca. Lalu ada pula pertimbangan fasilitas yang dipilih oleh 22 persen pembaca dan pertimbangan biaya oleh 20 persen pembaca.

Selain itu, ada pula pertimbangan dari sisi sosial, semisal keinginan untuk memasukkan anak ke sekolah internasional agar terlihat bergengsi atau memasukkan anak ke sekolah yang direkomendasikan oleh kelompok sosial orang tua. Hanya saja, biaya yang disiapkan kerap tidak sedikit, sehingga menimbulkan banyak dilema.

Dilema dalam memilih sekolah dialami oleh Wilma Pertiwi. Awalnya ia ingin puterinya yang bernama Zaara (6) masuk ke sebuah SD Negeri yang terkenal cukup bagus di kawasan Kebayoran Baru.

Namun, karena syarat masuk SD Negeri kini berdasarkan zonasi dan sesuai dengan kelurahan yang tercantum dalam Kartu Keluarga (KK), maka harapannya terpaksa pupus sebab SD Negeri yang lebih dekat dengan rumahnya tak sesuai kriteria.

"Karena tidak sesuai dengan kriteria jadi masih cari-cari alternatif lain, termasuk survei ke beberapa SD Swasta yang harganya sesuai," ungkap Wilma.

Survei ke sejumlah SD juga dilakukan oleh Widya Hulufi. Walau anaknya, Rara (4), baru akan masuk TK, Widya sudah berkunjung ke 5 sekolah swasta untuk membandingkan kurikulum, metode belajar, fasilitas, dan tentunya biaya.

"Alasan memilih SD swasta karena fasilitas dan aktivitasnya lebih banyak. Tapi saya juga melihat kurikulum, incarannya SD yang berbasis agama yang pakai kurikulum internasional dan nasional. Jadi sampai ke lima tempat buat bandingin. Tetapi, semakin banyak survei semakin bingung," curhat Widya.


Walau membuat bingung, survei menjadi langkah yang harus dilakukan oleh orang tua. Pemerhati anak Seto Mulyadi mengatakan, melalui survei langsung orang tua bisa menggali informasi secara lengkap dan tepat tentang sekolah dari guru atau bagian akademik.

Selain survei, tentu ada pertimbangan lain yang baiknya juga dilakukan oleh orang tua dalam memilih sekolah terbaik untuk anak, mulai dari syarat masuk, tahapan pendaftaran yang perlu dilewati, hingga kesalahan-kesalahan yang baiknya dihindari.

Tulisan ini merupakan bagian dari fokus 'Lika-liku Pilih Sekolah Anak'

[Gambas:Video CNN] (ayk/ayk)

Let's block ads! (Why?)

Halaman Selanjutnya >>>>




Bagikan Berita Ini

Related Posts :

Powered by Blogger.