Akun Bos Twitter Jack Dorsey Diretas, Cuitkan Kata-kata Rasis

Cuitan-cuitan di akun @jack itu mengandung kata-kata rasis dan menyatakan keberadaan sebuah bom. Cuitan yang diunggah peretas pukul delapan malam waktu Inggris itu kemudian dihapus.
Beberapa cuitan mengandung tagar #ChucklingSquad yang diyakini merupakan identitas kelompok peretas. Tagar itu juga ditinggalkan pada kasus peretasan-peretasan tokoh terkenal pada baru-baru ini.
Twitter mengatakan bahwa nomor telepon yang digunakan oleh akun Dorsey telah dibobol karena penyedia jaringan melakukan kesalahan dalam pengamanan. Akibatnya, peretas bisa mengunggah cuitan menggunakan layanan pesan singkat (SMS).
Saat ini akun Twitter Dorsey telah diamankan dan "tidak ada indikasi bahwa sistem Twitter telah dibobol," demikian menurut perusahaan yang berbasis di San Fransisco tersebut.
Diperkirakan cuitan-cuitan yang diunggah peretas sempat bertahan selama setengah jam sebelum akhirnya dihapus.
Serangkaian komentar pun muncul merespons peretasan akun Dorsey ini, mempertanyakan mengapa sang pendiri Twitter tidak mengamankan akunnya dengan lebih baik.
Netizen juga mempertanyakan layanan Twitter yang bahkan tidak bisa mengamankan bosnya sendiri di layanan tersebut.
"Jika Anda tidak bisa melindungi Jack, maka Anda tidak bisa melindungi... Jack," kata seorang pengguna Twitter.
Peretasan ini terjadi hanya beberapa saat setelah Dorsey dan Twitter bergerak agresif untuk membersihkan konten-konten yang tak layak atas nama "keamanan".
Seorang pengguna Twitter lainnya mengatakan bahwa peretasan ini mungkin satu-satunya cara agar Twitter bisa terbebas dari ucapan rasis.
Konsultan keamanan yang berbasis di Inggris, Graham Cluley, mengatakan insiden ini merupakan bukti betapa pentingnya pemeriksaan ganda, dengan seorang pengguna mesti mengonfirmasi akun mereka melalui layanan eksternal.
Cluley menyarankan orang-orang untuk memastikan bahwa mereka menggunakan pemeriksaan ganda dan memeriksa aplikasi-aplikasi yang terkait akun mereka.
"Meski ini terlihat buruk, penting untuk mengingat bahwa ini bukan peretasan tingkat tinggi," kata R. Daavid Edelman, Direktur Proyek Keamanan Teknologi, Ekonomi, dan Nasional di Institut Teknologi Massachusetts.
"Secara mendasar ini adalah aksi vandalisme, hampir serupa dengan mencorat-coret papan nama di atas markas besar Twitter."
Sementara itu, peneliti sekuritas siber Kevin Beaumont mengatakan bahwa akun Dorsey diretas lewat aplikasi pihak ketiga bernama Cloudhopper, yang telah diakuisisi Twitter 10 tahun lalu, dan memiliki akses pada akun Dorsey.
Cloudhopper sendiri membuat pengguna bisa mengirimkan cuitan lewat SMS.
"It's fundamentally an act of petty vandalism; the equivalent of spray painting a billboard above Twitter HQ," kata Beaumont.
Insiden ini memunculkan kecemasan bahwa akun sosial media, bahkan untuk para tokoh terkenal sekalipun, bisa diretas dan digunakan untuk menyebarkan informasi palsu.
Hal ini juga ditegaskan oleh anggota parlemen Kanada, Michelle Rempel Garner.
"Di antara bot, troll, dan juga hinaan-hinaan, saya sudah bersikap skeptis bahwa Twitter adalah platform yang bisa diandalkan," kata Rempel Garner.
"Fakta bahwa Twitter membutuhkan waktu 30 menit agar akun sang pemilik bisa dinormalkan adalah suatu masalah besar, dan membuat saya sebagai pejabat publik terpilih cemas."
(vws)
Halaman Selanjutnya >>>>
Bagikan Berita Ini